Arti dan Makna Logo Srisadhana Amerthanadi

Berikut ini adalah arti dan Makna Logo Srisadhana Amerthanadi

Filosofi Logo

Awal nama Sri Sadhana Amertha Nadi ini adalah nama pemberian dari kakek saya. Saya meminta saran nama karena Beliau sebagai Pemangku (Pemuka Agama) sehingga saya ingin nama yang dibuat memiliki arti dan filosofi. Pemberian nama usaha Srisadhana Amerthanadi pada akhir tahun 2009 setelah saya lulus kuliah. Karena cita-cita saya saat lulus kuliah ingin membuka usaha cetak foto dan pengetikan.

Dan pada Tgl. 18 Januari 2010 berdirilah usaha saya ini dengan nama Sri Sadhana Amertha Nadi.

Dan berikut ini adalah filosofi arti nama Sri Sadhana Amertha Nadi pemberian sang kakek.

Nama Sri Sadhana adalah nama yang diambil dari cerita mitos Hindu (lampiran cerita ada dibagian bawah) Dan kata Sri adalah nama dari Dewi Sri yang dalam ajaran Hindu adalah Dewi Kemakmuran / Rejeki. Dan Sri juga diartikan sebagai wanita / putri yang cantik.

Sadhana dalam bahasa jawanya adalah sandang pangan. Sedangkan di dalam ajaran Hindu adalah nama dari Dewa Sadhana yang artinya Dewa Keberlimpahan, Dewanya uang dan kekayaan.

Sedana memiliki akar kata “se + dhana”. “Se” artinya satu atau tunggal sedangkan “dhana” artinya uang, materi, harta, kekayaan, sumber nafkah. Sehingga sedana merupakan sumber tunggal dari harta benda atau nafkah.

Sri Sadhana dalam ajaran Hindu merupakan simbol bersatunya dualisme, purusa dan predana. Dalam hal ini adalah Bhatara Sri Sedana, sering juga disebut dengan Sri Sadhana atau Sridhana, Rambut Sedana, merupakan 2 sosok personifikasi dari Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) yaitu Dewi Sri dan Dewa Sedhana yang diyakini memberikan “taksu” kepada umat dalam hal rejeki, sehingga beliau dipuja oleh para pelaku ekonomi dan bisnis, baik pedagang maupun pengusaha.

Beliau merupakan Dewa Kekayaan, Dewa kemakmuran, kemurnian, dan kedermawanan selalu dihubungkan dengan Dewi Laksmi. Dikutip dari Sumber: http://gamabali.com/bhatara-sri-sedana

Kemudian kata Amertha (Sanskerta: amṛta; Devanagari: अमृत) dalam mitologi Hindu dan mitologi Buddha, adalah minuman para Dewa yang dihasilkan dari mengaduk-aduk samudra. Ceritanya terdapat dalam kitab Adiparwa. Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Adiparwa#Kisah_pemutaran_Mandaragiri

Kata Amerta secara harafiah artinya adalah “ke-tidak-mati-an” dan berasal dari akar kata merta yang berarti maut.

Dalam mitologi Yunani Amerta dikenal sebagai ambrosia.
Dalam mitologi Yunani, ambrosia (bahasa Yunani: Αμβροσία) kadang-kadang digambarkan sebagai makanan, juga kadang sebagai minuman para dewa-dewi.
Seringkali ambrosia diyakini akan memberi kehidupan yang abadi bagi siapapun yang memakannya. Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Ambrosia

Sedangkan kata Nadi dalam bahasa Balinya adalah mengamuk, dimana Beliau (kakek saya) mengharapkan agar rejeki pada usaha saya ini terus berlimpah
dan diberikan kejayaan yang berapi-api yang tidak pernah padam seiring waktu selalu tumbuh.

Arti dan Makna Logo

Arti dan Makna Logo Srisadhana Amerthanadi

1. Arti dan Makna Simbol Logo

Sesuai dengan filosifinya, logo ini membentuk huruf S (Sri Sadhana) A (Amertha) N (Nadi)

Huruf S juga membentuk sperti belali gajah nampak sampin. Gajah dalam Hindu adalah simbol Dewa Ganesha yang melambangkan kebijaksanaan dan pengetahuan,
mewakili kekuatan dari Yang Mahatinggi yang menyingkirkan rintangan dan menjamin kemenangan dalam pencapaian

Lambang segitiga kecil warna merah adalah titik awal merintis usaha (dari nol) hingga tinggi (pada simbol A) hingga
keseluruhan logo membentuk Segitiga tertingi yang dimana diharapkan agar usaha ini terus berjaya se-iring waktu.

Lingkaran warna orange dilambangkan sebagai matahari yang memberikan 3 sinar energi merah, hijau dan orange

1. Arti dan Makna Warna Logo

Warna Merah diartikan Kuat, berani, percaya diri, keinginan yang berapi-api

Warna Hijau diartikan sebagai Kesejukan, keberuntungan, dan kesehatan. Hijau melambangkan alam, kehidupan, dan simbol fertilitas.

Warna Orange punya karakter yang mirip dengan merah tapi lebih feminim dan bersahabat. Melambangkan sosialisasi, penuh harapan dan percaya diri, membangkitkan semangat, vitalitas dan kreatifitas. Dapat menimbulkan perasaan positif, senang, gembira dan optimis, penuh energi.

Kisah mitos Hindu : Dewi Sri

Kakek saya mengambil Nama Sri Sadhana diambil dari kisah mitos Hindu. Dan saya coba searching di google saya menemukan. Ceritanya hampir sama dengan yang diceritakan kakek saya, namun ada beberapa yang berbeda dalam cerita ini dengan versi kakek saya. Tetapi intinya sama.

Dan berikut ceritanya yang saya dapatkan dari  https://hindu.web.id/mitos-dewi-sri

Dahulu kala, di kahyangan Bhatara Guru yang menjadi penguasa tertinggi kerajaan langit memerintahkan segenap para dewa dan dewi untuk bergotong royong membangun istana baru. Siapa yang tidak mentaati perintah ini akan dipotong tangan dan kakinya. Mendengar perintah ini, Antaboga (Anta) sang dewa ular sangat cemas, karena dia tidak mempunyai tangan dan kaki. Karena sangat ketakutan, ia meminta nasehat kepada Bhatara Narada, akan tetapi Bhatara Narada pun tidak bisa menemukan cara untuk membantunya. Akhirnya Dewa Anta pun menangis.

Tetesan air mata Dewa Anta jatuh ke tanah, ajaibnya tiga tetes air mata berubah menjadi mustika yang berkilau bagai permata. Butiran itu sesungguhnya adalah telur yang mempunyai cangkang yang indah. Bhatara Narada meyarankan agar butiran mustika itu dipersembahkan kepada Bhatara Guru sebagai bentuk permohonan agar beliau memahami dan mengampuni kekurangan Dewa Anta yang tidak bisa ikut bekerja membangun istana. Dengan mengulum tiga butir telur mustika, berangkatlah Dewa Anta menuju istana. Dalam perjalanannya ke istana Dewa Anta bertemu seekor burung gagak yang meyapanya dan bertanya kemana ia hendak pergi. Karena mulutnya penuh dengan telur, ia tidak bisa menjawab pertanyaan si gagak. Sang gagak mengira Anta sombong sehingga ia amat tersinggung dan marah. Burung itupun lalu menyerang Anta, akibatnya dua butir telur mustika pecah. Dengan ketakutan Anta melata melarikan diri menyelamatkan sebutir telur yang masih tersisa.

Singkat cerita, Dewa Anta tiba di istana Bhatara Guru dan segera mempersembahkan telur mustika itu. Bhatara Guru dengan senang hati menerima telur itu dan memerintahkan kepada Anta untuk mengerami telur itu hingga menetas. Akhirnya telur itu menetas dan yang keluar adalah seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan lucu. Bayi itupun diangkat sebagai anak oleh Bhatara Guru dan permaisurinya. Bayi itu diberi nama Nyi Pohaci Sanghyang Sri (Dewi Sri). Seiring berjalannya waktu berlalu, Dewi Sri tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik luar biasa, lemah lembut, baik hati, halus tutur kata dan budi bahasanya, memikat semua insa, bahkan Bhatara Guru pun terpikat kepada anak angkatnya itu. Diam-diam Bhatara Guru hendak mempersunting Dewi Sri menjadi istrinya. Melihat gelagat tersebut para dewa khawatir, maka para Dewa berunding mengatur siasat untuk memisahkan Bhatara Guru dengan Dewi Sri, demi menjaga keselarasan rumah tangga sang penguasa kahyangan dan menjaga kesucian Nyi Pohaci (Dewi Sri), kemudian para Dewa mengumpulkan berbagai macam racun untuk membunuh Nyi Pohaci. Akhirnya Dewi Sri pun mati keracunan dan para Dewa ketakutan karena sudah membunuh gadis suci yang tak berdosa. Maka jenazah sang dewi dibawa turun ke bumi dan dikuburkan di tempat yang jauh dan tersembunyi.

Akan tetapi sesuatu yang ajaib terjadi, karena kesucian dan kebaikan budi Dewi Sri, maka dari kuburnya muncul beraneka tumbuhan yang sangat berguna bagi umat manusia. Dari kepalanya muncul pohon kelapa, dari hidung, bibir dan telinganya muncul berbagai tanaman rempah dan sayur mayur, dari rambutnya muncul rerumputan dan berbagai bunga yang cantik dan harum, dari payudaranya tumbuh tanaman buah-buahan, sedangkan dari pusarnya muncul tanaman padi. Sejak saat itulah umat manusia mulai memuja, memuliakan dan mencintai Dewi Sri yang baik hati, karena dengan pengorbanannya yang luhur telah memberikan berkah kebaikan alam, kesuburan.

Selain disebut sebagai Dewi Sri, dalam masyarakat Hindu di Bali beliau juga disebut sebagai Sri Sadhana atau Rambut Sadhana, Dewi Danu serta Dewa Ayu Manik Galih. Ada yang menarik dalam pemahaman umat Hindu di Bali adalah adanya perwujudan Sri Sadhana, yakni dua arca yang terbuat dari uang kepeng. Sri Sadhana sering disebut sebagai dewata Rambut Sadhana, dewata yang berambut uang (dipuja pada hari Buda Cemeng Klawu). Ada yang menafsirkan bahwa “rambut Sadhana” adalah tempat uang yang tertinggi, karena kata sadhana diartikan uang. Menghias arca dengan uang di Bali merupakan kelanjutan dari tradisi di India. Di Indonesia pada masa yang silam digunakan uang kepeng China (Chiyen), oleh karena itu kita mewarisi dewi Sri Sadhana menggunakan hiasan dan bahkan badannya terbuat dari uang kepeng. Sri Sadhana pada umumnya disungsung atau dipuja oleh kaum pedagang di pasar.

Dewi Sri sebagai dewi kemakmuran dan kesuburan merupakan sakti dari Dewa Wisnu yang sebagai dewa pemelihara dan penguasa air. Kesuburan dari segala tumbuhan atau tanah tidak dapat dipisahkan dengan adanya air sebagai faktor pendukung kesuburan tersebut. Dalam masyarakat Hindu di Bali mengenal sebutan Dewi Danu sebagai nama lain dari Dewi Sri. Dewi Danu berasal dari dua kata yaitu Dewi dan Danu. Dewi mengandung arti dewa perempuan, perempuan yang cantik dan Danu (bahasa Bali) memiliki persamaan arti dengan danau yaitu daratan yang jeluk yang digenangi air amat luas atau telaga. Jadi Dewi Danu mengandung arti dewi yang sangat dipuja atau disembah sebagai penguasa air atau danau yang bertujuan untuk memohon keselamatan, kesuburan dalam bidang pertanian. Dewi Danu merupakan manifetasi Tuhan, dalam prabawa-Nya sebagai dewi kesuburan. (tesis). Selain itu, Dewi Sri juga disebut sebagai Dewa Ayu Manik Galih, yaitu sebagai dewi yang menguasi pangan (beras atau padi) dan sebagai dewi kemakmuran. Suburnya tanaman pangan yang disebut padi itu adalah simbol kemakmuran ekonomi.